I Love You, My Friend
Aku berdiri di muka pintu kantin sekolahku, mencari meja mana yang kosong. Kutemukan beberapa meja kosong, namun aku memilih yang dekat dengan pintu dan jendela alasannya karena ingin melihat suasana di luar kantin. Kulirik penjaga kantin lalu kukatakan apa saja pesananku.Sambil menunggu pesananku datang, aku mengamati suasana kantin. Suasana kantin agak sepi dari biasanya karena sekarang ini sudah pukul tiga sore, satu jam setelah bel pulang sekolah dibunyikan. Yang masih berada di sekolah termasuk kantin biasanya murid-murid yang mengikuti kegiatan ekskul atau hanya ingin nongkrong.
Si penjaga kantin tiba-tiba datang dengan membawa pesananku dan tanpa ba-bi-bu lagi, aku melahap makananku. Aku sangat lapar karena sekarang sudah lewat dari jam makan siang dan perutku protes tdak diberi makan.
Disela-sela makanku tiba- tiba seseorang masuk. Aku menoleh ke arahnya. Ternyata Dina, sahabatku.
“ Kok belum pulang ? Katanya mau cepat-cepat pulang tadi ?” tanyaku pada Dina karena tadi ia berpamitan padaku kalau dia ingin pulang cepat.
Ia duduk di depanku.
“ Arsyad belum jemput,” katanya. Ia menoleh ke arah penjaga kantin. “ Mbak, Es Teh satu dong.”
“ Kok bisa belum dijemput Arsyad ? Emang dia belum pulang ?” tanyaku lagi karena biasanya Arsyad, pacar Dina, selalu on time menjemput Dina.
“ Nggak tahu. Dia nggak telepon atau sms.”
“ Kamu nggak telepon dia ?”
“ Sudah, tapi nggak diangkat. Mungkin ada tambahan pelajaran di sekolahnya.”
Aku mengangguk-angguk mengerti. Si penjaga kantin membawakan Es Teh pesanan Dina dan ia langsung menyeruputnya.
“ Kamu mau aku antar pulang ?” tanyaku menawari.
Dia menggeleng,” Nggak ah. Kamu habis ini kan ada latihan basket.”
“ Ya, nggak apa-apa sekali-kali bolos buat nganter kamu.”
“ Apaan sih ? Nggak usah segitunya kali. Aku nggak mau ngerepotin kamu.”
Dina, Dina. Aku itu suka sama kamu, apa aja aku bakal lakuin buat kamu termasuk bolos latihan basket. Buatku, basket nomor dua dan kamu nomor satu, batinku.
“ Beneran nih nggak mau aku anter ?” tanyaku sekali lagi meyakinkannya.
“ Nggak. Aku nggak mau ngerepotin kamu. Apalagi kamu suka banget sama yang namanya basket. Masa bolos gara-gara nganterin aku ?” Ia tersenyum menggoda dan aku hanya tersenyum kecut.
“ Dina.” Tiba-tiba seseorang masuk. Arsyad datang. “ Maaf, aku telat jemput kamu. Tadi ada pelajaran tambahan matematika dari Pak Ketut.”
“ Nggak apa-apa kok,” ujarnya.
“ Mau pulang sekarang ?” tanya Arsyad.
Dina langsung mengangguk mengiyakan. Ia bangkit dari duduknya.
“ Rere, aku sama Arsyad pulang dulu ya,” pamitnya.
“ Iya,” kataku sambil tersenyum.
“ Re, aku pulang dulu. Makasih udah mau nemenin Dina,” tambah Arsyad.
“ Apaan sih, Syad ? Resmi banget. Emangnya aku siapa ?”
Arsyad dan Dina tertawa.
“ Kami pulang dulu,” kata mereka.
“ Iya, udah sana. Jangan pamer kemesraan kalian disini. Hus, hus.”
Arsyad dan Dina masih tertawa.
“ Hati-hati di jalan yah,” kataku saat Arsyad dan Dina akan pergi.
Aku melihat kepergian mereka dengan tersenyum getir. Aku menyukai Dina, sahabatku. Tapi tentu saja ia akan memilih Arsyad daripada aku. Bukan masalah cinta, tapi masalah realita. Aku cewek, sedangkan Arsyad cowok. Cinta sesama jenis adalah hal yang tabu. Tapi entahlah. Aku adalah aku dan kamu adalah kamu.

eehmmm...mencintai dalam diam yaa...sakit emang...aku pernah tuuw ngrasain kaya gitu...
BalasHapushaha..
BalasHapusemang sakit mbak..
tapi yah, mw gimana lagi..
hehe^^
ayooo nulis lagi doonggg..semakin banyak nulis semakin terlatih loohh.....pa khabar?
BalasHapushaha,,
BalasHapussusah mbak..
blom ada inspirasinya..
ni aj nulis perasaan yang dulu pernah Q rasain.hehe^^
hai Phie salam kenal....
BalasHapusyang penting kan rasanya bahagia tho?
andrea
salam kenal to andrea..
BalasHapushehe,klo jatuh cinta emg rasanya bahagia..
tapi klo udah patah hati..
hwui..
sakitnya minta ampun..
hehe^^