Handphoneku tiba-tiba berdering. Sebuah sms masuk ke dalam hapeku. Aku membukanya. Dari Dina.
I’ll see you…hehe^^
Aku melirik ke arah kanan dan kiri. Tak ada Dina. Aku mulai melihat sekeliling. Dina tak ada juga. Aku langsung membalas smsnya.
Kamu dimana ?
Dan tak lama, aku mendapatkan balasan darinya.
Aku ada di deketmu. Lihat kamu sama Dimas. Jelas banget. Hayooo…
Dina benar. Sekarang, aku memang bersama Dimas, teman sekelasku yang juga teman di ekskul basketku. Aku dan Dimas sedang makan di sebuah kafe dekat sekolah kami. Bukan maksud kami sedang kencan, tapi kami memang lapar. Dimas tadi mengajakku makan dan kebetulan aku juga sedang lapar. Alhasil kami pun makan di sini.
Aku membalas sms Dina.
Apaan sih ? kamu dimana sekarang ?
“ Sms siapa, Re ?” tanya Dimas.
“ Ini, Dina. Katanya dia ada di deket sini.”
“ Oh, yauda. Ajak aja makan di sini sekalian.”
“ Belom dibales smsnya.”
Dimas manggut-manggut. Ia melanjutkan kegiatan makannya.
“ Hey!” tiba-tiba Dina datang.
“ Cieee…yang lagi kencan,” godanya. Ia lalu duduk di antara aku dan Dimas.
Dimas tiba-tiba tersedak. Ia langsung mengambil air minumnya dan menegaknya.
Yah, wajar saja kalau Dimas tersedak. Lha wong aku baru nolak dia. Dia pasti kecewa berat sekarang. (Hehe^^, nakal juga aku).
“ Aku ke toilet dulu, ya,” Dimas tiba-tiba berdiri lalu ngacir ke toilet.
Dina langsung mendekat padaku.
“ Hayo, ayo cerita. Sejak kapan kalian jadian ?” tanyanya antusias.
“ Nggak jadian kok.”
“ Bo’ong.”
“ Beneran,” kataku meyakinkannya.
“ Bo’ong. Terus, ngapain kalian makan di sini ? Berdua pula. Apalagi namanya kalau bukan kencan ?”
“ Yee….mana kutahu. Udah aku bilang, aku nggak jadian sama Dimas. Aku juga nggak kencan sama Dimas. Puas ?”
Dina terdiam. Ia terlihat berpikir.
Aku senang melihatnya. Apa pun yang dilakukannya. Entah berpikir seperti sekarang yang dilakukannya, entah berfoto ria, entah makan, entah tidur. Apa saja. Karena aku mencintainya. Mencintai dia apa adanya.
“ Re ?”
“ Hm ?”
“ Aku penasaran deh Re.”
“ Penasaran apa ?” tanyaku.
“ Sebenernya kamu tu suka sama siapa sih ? Kenapa sampai sekarang kamu belum punya cowok?”
Duh, Dina. Aku tu sebenernya suka sama kamu. Kenapa sih kamu nggak sadar juga sampai sekarang ? Batinku berteriak.
“ Kamu masih normalkan ?”
Kali ini aku tersedak mendengarnya.
I’ll see you…hehe^^
Aku melirik ke arah kanan dan kiri. Tak ada Dina. Aku mulai melihat sekeliling. Dina tak ada juga. Aku langsung membalas smsnya.
Kamu dimana ?
Dan tak lama, aku mendapatkan balasan darinya.
Aku ada di deketmu. Lihat kamu sama Dimas. Jelas banget. Hayooo…
Dina benar. Sekarang, aku memang bersama Dimas, teman sekelasku yang juga teman di ekskul basketku. Aku dan Dimas sedang makan di sebuah kafe dekat sekolah kami. Bukan maksud kami sedang kencan, tapi kami memang lapar. Dimas tadi mengajakku makan dan kebetulan aku juga sedang lapar. Alhasil kami pun makan di sini.
Aku membalas sms Dina.
Apaan sih ? kamu dimana sekarang ?
“ Sms siapa, Re ?” tanya Dimas.
“ Ini, Dina. Katanya dia ada di deket sini.”
“ Oh, yauda. Ajak aja makan di sini sekalian.”
“ Belom dibales smsnya.”
Dimas manggut-manggut. Ia melanjutkan kegiatan makannya.
“ Hey!” tiba-tiba Dina datang.
“ Cieee…yang lagi kencan,” godanya. Ia lalu duduk di antara aku dan Dimas.
Dimas tiba-tiba tersedak. Ia langsung mengambil air minumnya dan menegaknya.
Yah, wajar saja kalau Dimas tersedak. Lha wong aku baru nolak dia. Dia pasti kecewa berat sekarang. (Hehe^^, nakal juga aku).
“ Aku ke toilet dulu, ya,” Dimas tiba-tiba berdiri lalu ngacir ke toilet.
Dina langsung mendekat padaku.
“ Hayo, ayo cerita. Sejak kapan kalian jadian ?” tanyanya antusias.
“ Nggak jadian kok.”
“ Bo’ong.”
“ Beneran,” kataku meyakinkannya.
“ Bo’ong. Terus, ngapain kalian makan di sini ? Berdua pula. Apalagi namanya kalau bukan kencan ?”
“ Yee….mana kutahu. Udah aku bilang, aku nggak jadian sama Dimas. Aku juga nggak kencan sama Dimas. Puas ?”
Dina terdiam. Ia terlihat berpikir.
Aku senang melihatnya. Apa pun yang dilakukannya. Entah berpikir seperti sekarang yang dilakukannya, entah berfoto ria, entah makan, entah tidur. Apa saja. Karena aku mencintainya. Mencintai dia apa adanya.
“ Re ?”
“ Hm ?”
“ Aku penasaran deh Re.”
“ Penasaran apa ?” tanyaku.
“ Sebenernya kamu tu suka sama siapa sih ? Kenapa sampai sekarang kamu belum punya cowok?”
Duh, Dina. Aku tu sebenernya suka sama kamu. Kenapa sih kamu nggak sadar juga sampai sekarang ? Batinku berteriak.
“ Kamu masih normal
Kali ini aku tersedak mendengarnya.

duuhh kebayang deehw ajahmu saat tersedak sampe melotot mandangin Dina...hehhehe
BalasHapushaha,,
BalasHapusemg bener2 kagok mbak klo ditanya gt..
apalagi ma orang yang disukai..
busyet, rasanya sampe gak bs digambarin de..
sempet mikir..
knp si Qta jadi orang terasing?knp Qta ga boleh menyukai sesama jenis?Knp???
Kyknya serba salah klo menyukai sesama jenis.padahal, hati kan gak bs dibohongi.Ugh...